Jangan awali hari dengan penyesalan hari kemarin, karena akan menggangu hebatnya hari ini, dan akan merusak indahnya hari esok.

Sabtu, 11 Februari 2012


Pada suatu hari seorang saudagar yang terkenal kaya raya merasa kehilangan sekeping uang logam. Dari awal sang saudagar mencurigai anak tetangganya sebagai pencurinya, karena di matanya sikap dan perilaku anak itu mirip pencuri. Pada saat itu, anak tetangga yang sedang dipikirkan sang saudagar tiba-tiba lewat di depan sang saudagar. Anak itu tersenyum sewaktu melihat sang saudagar.


Melihat anak itu lewat di depannya sambil tersenyum, sang saudara merasa muak sekali. Di matanya, senyum anak itu seolah mencemoohnya karena telah berhasil mencuri uang darinya. Selain itu sang saudagar merasa sikap anak itu sangat mencurigakan. Geram sekali sang saudagar jadinya.

Sang saudagar pun berbalik untuk masuk kembali ke dalam rumah. Namun tiba-tiba didengarnya sesuatu terjatuh dari saku bajunya. Segera dilihatnya apa yang terjatuh itu, dan alangkah kagetnya dia ternyata yang dilihatnya adalah sekeping uang logam yang disangkanya hilang itu. Rupanya uang logam itu terselip di saku bajunya. Sang saudagar senang sekali telah menemukan uang logamnya kembali.

Pada saat bersamaan, anak tetangga yang tadi dicurigainya lewat lagi. Seperti yang tadi dilakukannya, dia tersenyum dan menunduk hormat kepada sang saudagar. Kali ini sang saudagar membalas senyuman anak itu dan dimatanya senyum dan sikap anak itu terlihat sangat santun dan sikapnya menunjukkan dia adalah anak yang baik dan hormat pada orang tua.

Nah.., seperti itulah seringkali kita bersikap. Prasangka seringkali menuntun kita dalam pikiran yang salah dan terburu-buru menjatuhkan penilaian. Dalam keadaan seperti itu kita seringkali tak berusaha untuk mencari kebenaran berdasarkan fakta yang ada. Barulah setelah kita dihadapkan dengan fakta yang bertolak belakang dengan prasangka kita, rasa sesal dan malu akan hadir di hati. Masih beruntung jika kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang ada, tapi jika tidak bagaimana..?

Semoga kisah singkat di atas, meskipun sederhana, dapat menjadi sentilan bagi kita untuk tidak lagi terburu-buru dalam menilai sesuatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Pendapat Anda?